RSS

Bukan Kucing dalam karung

Bismillahirrohmanirrohiim…

Hasil diskusi panjang lebar kali tinggi dengan beberapa teman yang memang lagi sedang mempersiapkan diri untuk selangkah lagi lebih maju, selangkah lebih berani untuk memulai melakukan start untuk mencapai ibadah yang bernilai separuh agama itu. Maka setelah menggulang-ngulang kembali apa yang telah saya pelajari ini lah pandangan saya terhadap pro dan kontra “pernikahan tanpa pacaran” 

Menikah itu adalah ibadah yang bernilai separuh agama, maka khusyuklah dalam menjalaninya. Karena godaannya pun tak main-main@arsyanurani

salah satu ciri yang menonjol dari zaman Nabi dan Sahabat yang mulia itu adalah . Pewarisan karakter yang sangat kental dari para ayah kepada para anak. Seperti dari Sa’d ibn ’Ubadah kepada Qais yang telah kita tau bersama. Di belakang nama orang Arab selalu terderet nama ayah-ayah mereka. Mungkin salah satu hikmahnya adalah identifikasi. Tak cuma identifikasi keturunan siapa. Tapi juga wataknya. Kalau kau ingat bapaknya dulu punya suatu sifat mulia, demikian pula kurang lebih anaknya.

Itulah zaman di mana orangtua benar-benar dituakan oleh anaknya, dan mereka mendapatkan pendidikannya di madrasah yang tanpa libur dan tanpa jeda. Di rumahnya. Tempat di mana mereka belajar bukan hanya dari apa yang terucap, tapi apa yang dilakukan oleh ayah bundanya. Orangtua adalah guru yang sebenar-benarnya. Mereka digugu, ditaati karena integritas di hadapan anak-anaknya. Dan ditiru, karena memang semua perilakunya membanggakan untuk dijadikan identitas. 

Maka jadilah masyarakat itu masyarakat yang punya tingkat saling percaya amat tinggi. Kalau kau mau menikahi Hafshah, tak perlu berkenalan dengan Hafshah. Lihatlah saja ’Umar, bapaknya. Nah, Hafshah kurang lebih ya seperti bapaknya. Kalau mau menikah dengan ’Aisyah, tak perlu engkau mengenal ’Aisyah. Coba perhatikan Abu Bakr. Nah, ’Aisyah tak beda jauh dengannya. Maka dalam gelar pun mereka serupa; Abu Bakr dijuluki Ash Shiddiq, dan ’Aisyah sering dipanggil Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq. Tapi zaman sekarang? Mungkin tak bisa lagi seperti itu. Karena anak tidak bisa lagi dinilai dengan siapa orang tuanya


Nah dari sinilah kita bahas pernyataan dalam masyarakat. Ada yang memberi pernyataan, ”Di dalam Islam kan tidak ada pacaran, yang ada ta’aruf.” Benerkah seperti itu?, ”Ta’aruf? Tidak ada dalilnya. Tidak ada asal dan contohnya dari Rasulullah maupun para shahabat. Ini istilah umum yang dipaksakan menjadi istilah khusus pernikahan. Sedihnya lagi, ada yang  menyalahgunakannya. Mengganti istilah, dengan hakikat dan isi yang nyaris sama dengan pacaran. Na’udzu billaahi min dzalik.”

Maafkan sekiranya saya berlebihan. Tapi begitulah. Kata ta’aruf artinya ’saling mengenal’ hanya kita temukan dalam Al Quran dalam konteks yang umum.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujuraat 13)
♥♥♥
Tetapi tentu saja sebuah pernikahan yang dimulai dengan hanya mengandalkan rasa saling percaya di dalam suatu masyarakat menjadi penuh resiko di kelak kemudian hari. Apalagi hari ini, ketika kita mudah oleng, tak teguh berpijak pada wahyu dan nurani. Beberapa halaman lewat, pada tajuk Berkelana dalam Pilihan kita sudah menyimak kisah Habibah binti Sahl yang akhirnya memilih mengajukan pisah dari suaminya, Tsabit ibn Qais. Mengapa? Habibah mengukur kekuatan dirinya yang ia rasa takkan sanggup bersabar atas kondisi suaminya yang menurutnya, ”Paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya.”

Ya, masalahnya adalah Habibah belum pernah melihat calon suaminya itu. Belum pernah. Sama sekali belum pernah. Mereka baru bertemu setelah akad diikatkan oleh walinya. Sebelum berjumpa, dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. Dan harapan itu, karena ketidaksiapannya, karena ia belum pernah melihat sebelumnya, menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan. Mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum pernikahan terjadi. Ia punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk bersiap. Ia punya waktu untuk, kata Sang Nabi, ”Menemukan sesuatu yang menarik hati pada dirinya.”

Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn ’Abdillah mendengar Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang membawanya menuju pernikahan.” Maka ketika Jabir hendak meminang, ia rahasiakan maksudnya, dan ia melihat kepada wanita Bani Salamah yang hendak dinikahinya. Ia menemukannya. Hal-hal yang menarik hati pada wanita itu, yang mebuatnya memantapkan hati untuk menikahi.

Al Mughirah ibn Syu’bah Radhiyallaahu ’Anhu, sahabat Rasulullah yang masyhur karena kehidupan rumahtangganya yang sering dilanda prahara sejak zaman jahiliah, suatu hari ingin meminang seorang shahabiyah, seorang wanita shalihah. Maka Sang Nabi pun berkata padanya, ”Lihatlah dulu kepadanya, suapaya kehidupan kalian berdua kelak lebih langgeng.”

Subhanallah, inilah pernikahan terakhir Al Mughirah yang lestari hingga akhir hayatnya. Padahal sebelumnya entah berapa puluh wanita yang pernah menemani hari-harinya. Penuh dinamika dalam nikah dan cerai. Itu di antaranya disebabkan ia tak pernah melihat calon isterinya sebelum mereka menikah. Maka dengan menjalani sunnah Sang Nabi, Al Mughirah mendapatkan doa beliau, mendapatkan ikatan hati yang langgeng dan mesra. Demikian disampaikan kepada kita oleh Imam An Nasa’i, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi.

Dari mereka kita belajar bahwa syari’at mengajari kita untuk nazhar. Melihat. Melihat untuk menemukan sesuatu yang membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Bukankah yang Allah bilang yang Buta itu bukan mata, tapi hati, mari buka hati untuk melihat. Melihat untuk menemukan sebuah ketertarikan. Itu saja. Bukan mencari aib. Bukan menyelidiki cela. Bukan mendetailkan data-data. Lihatlah kepadanya. Itu saja. Tentu dengan melestarikan prasangka baik kita kepada Allah, kepada diri, dan kepada sesama. Apalagi ini sudah zaman modern dengan gampang kita bisa melihat keseharian seseorang, melalui kata-katanya, melalui status-statusnya atau apapunlah.

berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya mencari-cari sesuatu yang tidak selayaknya untuk dilihat. Atau mencari sesuatu yang berupa aib atau kekurangan. Karena kita semua sama-sama memiliki kekurangan dan aib.
Jika nazhar telah kita lakukan, sungguh kita telah mengeluarkan kucing dari karungnya. Tak lagi membeli kucing dalam karung. Karena kucing juga tak suka dimasukkan dalam karung. Karena kita juga tak ingin menikah dengan kucing.kan?

 Tapi nazhar itu cukuplah sedikit saja.
 “Mengapa terlalu banyak tahu terkadang menghalangi kita?”, kata Murakami dalam buku The Divine Message of The DNA. “Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.”

Padahal seringkali dengan banyaknya informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang berguna dan mana yang tak bermakna menjadi menurun. Otak kita bingung menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah. Sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi adalah kunci dari semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu banyak hal. Cukup mengetahui yang penting saja.
Begitu juga tentang calon isteri, calon suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang penting saja.

Ada sebuah kisah nyata seorang lelaki hendak menikah. Maka satu hal saja yang ia persyaratkan untuk calon isterinya; memiliki tiga kelompok binaan pengajian yang kompak padu. Ketika mereka bertemu untuk nazhar sekaligus merencanakan pinangan, sang wanita berkata, “Maaf, saya tidak bisa memasak.” Ini ujian Allah, batin si lelaki. Bukankah dia hanya meminta yang memiliki binaan pengajian? Mengapa harus mundur, ketika sang calon tak bias memasak?
“Insyaallah di Jogja banyak rumah makan”, begitu jawabnya sambil menundukkan senyum.
“Dan saya juga tidak terbiasa mencuci.”
Kali ini senyumnya ditahan lebih dalam. Kebangetan juga sih. Tapi ia tahu, ini ujian. Maka katanya, “Insyaallah di Jogja banyak laundry.”

Ia, sang lelaki tahu apa yang penting. Kejujuran. Keterbukaan. Itu sudah ditunjukkan oleh sang wanita dengan sangat jelas, sangat ksatria. Ia berani mengakui tak bisa memasak dan tak bisa mencuci. Tanpa diminta. Dua hal yang kadang membuat lelaki rewel. Tetapi dia adalah lelaki yang berupaya selalu memiliki visi dan misi. Maka dia mendapatkan sesuatu yang berharga; seorang wanita yang memiliki tiga kelompok binaan kompak padu. Dan itu sangat berarti bagi visi dan misinya dalam membangun keluarga. Selebihnya, siapa juga yang mencari tukang cuci dan tukang masak? Yang dia cari adalah seorang isteri, bukan kedua macam profesi itu.

And you know? Setelah pernikahan berjalan beberapa waktu, ketika merasa diterima apa adanya oleh suami tercinta, sang isteripun mencoba memasak. Ternyata ia pandai. Hanya selama ini ia tak pernah mencoba. Masakannya lezat, jauh melebihi harapan sederhana sang suami. Begitu juga dalam hal-hal lain. Banyak kejutan yang diterima sang suami. Jauh melebihi harapan-harapannya. Dulu, dia memang tak terlalu banyak tahu tentang calon isterinya. Ia cukup mengetahui yang terpenting saja.
Dua detik itu sangat menentukan. Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama. Segera. Jangan ditunda-tunda.

“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.” (HR Al Bukhari [3336] secara mu’allaq dari ’Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah)

            Ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.

”Iman”, kata Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Quran, ”Adalah persepsi baru terhadap alam, apresiasi baru terhadap keindahan, dan kehidupan di muka bumi, di atas pentas ciptaan Allah, sepanjang malam dan siang. Dan inilah yang diperbuat keimanan. Membuka mata dan hati. Menumbuhkan kepekaan. Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan.” Maka biarlah dia yang menjadi ratu penentu, di dua detik pertama nazhar kita.

berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya. yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu. Dan bahwa Allah selalu bersamamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gak Penting dihari ini

Entah apa yang terjadi dengan hari ini.. rasanya duniaku jungkir balik.. 

Case 1.
Kejadian masih dirumah, lagi nyetrika, dan lagi iseng pengen nyetrika diluar aja biar kamar ngak berantakan lagi, tiba-tiba terdengar bisik-bisik tetangga  ∂i luar..
A    : ayoo buk, gorengnya cepetan, ntar keburu mbak zi berangkat ke kantor lho..
B    : iyaaa.. Ini udah tinggal digoreng kok pak, lagian ini belum jam nya mbak zi berangkat..
me : -_-“ mereka lupa ya, ini kan hari senin, jadwalnya aku puasa..jadi ngak pake sarapan.
Akhirnya berangkat ke kantor mesti ngumpet-ngumpet kayak kucing garong lewat pintu darurat,(ini kok kayak gue punya salah aja) karena aku ngak tega liat wajah mereka kecewa karena hari ini aku gak bisa beli dagangan mereka..
(Bapak A dan ibu B, adalah langganan gorengan yg kayaknya mesti aku beli tiap pagi agar mereka ngak kecewa, krn mereka semangat banget.)

Case 2.
Ini kejadian nyampe dikantor..nyampe paling awal. Belum ada siapa2, masuk ruangan rasanya dingin banget, ternyata dari sabtu AC ngak dimatiin ama anak-anak.. Setelah mereka berdatangan. Ternyata masih ada yg telat.
A.   : Yang meeting hari ini siapa ya? (Mancing keributan)
Me : harusnya aku sama mbak D*n*, tapi bisa digantiin gak?  ini mbak D*n* belum datang lho. Jadi siapa yang gantiin pergi sendiri aja. Tuh udah ditungguin sopir diluar
*ruangan langsung ribut*
B   : ngak bisa gitu donk, hari ini  Ƙªmΰ yg meeting, minggu depan  Ƙªmΰ lagi yang ikut meeting.
Ce : iyaaa.. Harusnya kan emang  Ƙªmΰ yg meeting, megantiin Mbak D*n*.. Dan minggu depan lagi.. Kan emang jadwalnya..
*ruangan makin berisik, dan ngak ada yg berpihak*
Me : ya udah lah.. -_-“ (ini kenapa gue jadi ngalah ya? Aaah slalu kalah suara) 

Case 3.
Sebelum berangkat meeting, support office yg emang hobby telat baru datang..
Ya aku mau marah lah, karena alasannya ke kantor polisi, padahal aku ngasi tugas ke kantor polisi kan udah dari jum'at, sabtu pun udah diingetin. Dan emang udah aturan ngurus-ngurus surat polisi jangan  ∂i jam kantor. Harusnya waktu istirahat atau pulang kerja, karena itu kan ngak lama.
Me : kenapa telat lagi?
Dia: ini dari kantor polisi ngurusin yang kemaren.
Me : aku kan udah bilang dari jum'at, trus napa ngak sabtu  Ƙªmΰ ngurusinnya? Toh waktu aq pulang sabtu  Ƙªmΰ malah tidur-tiduran diruangan kayak ngak ada kerjaan.
Dia : *lempar surat polisi ke mejaku, sambil ngomel2 ngak jelas soalnya pake bahasa daerah* trus pergi ke mejanya
Me :-_-” ngomong dalam hati (ini kenapa gue lagi yang disalahkan?)
B.  : ngak usah pake lempar-lempar gitu kaleee.. *sambil mungutin berkas2 dimeja gue dan ngerjainnya*
Dia : *masih ngomel2 ngak jelas..* tapi ngak berani ngomong langsung ke aku..
Me : gak usah pake ngomel2 gitu.. Trus mau  Ƙªmΰ apa? Klo ngak suka Langsung ngomong ama aku aja..perlukah kita meetingin masalah ini?
Dia : *langsung diem dan ngerjain tugasnya*
B.   : *ngomel-ngomel ngeliat kelakuan dia yang suka telat dan kelakuan dia barusan*
Me : aaah.. Sudahlah ngak usah memperpanjang masalah.. 

trus aku ngelanjutin kerjaan nelpon ke Banjarmasin.
Me  : Hello, bisa bicara dengan Pak Dim*s?
BJM : iya, saya sendiri buk, ada yang bisa dibantu?
Me  : Gini pak, itu masalah Nestle yang udah lama itu kapan bisa kelar? Ini sudah lama lho. Aku ngak bisa toleransi lagi. Bla.. bla..bla..
BJM : iya buk, tp itu kemaren emailnya belum dibalas-balas.
Me : Trus klo belum dibalas kamu diam aja? Kenapa ngak dikejar orangnya? Klo gitu kapan bisa selesai ini?
BJM: iya Buk, hari ini akan saya kejarin lagi, trus ada lagi buk?
Me  : ini juga Philips BJM, sampit, dan Palangkaraya kenapa masih belum beres juga? Klo ada masalah bilang.
BJM  : iya buk, hari ini akan diselesaikan.

Abis nelpon itu aku masih aja denger ada yang ngomel-ngomel ngak jelas, 

Ce  : A, kamu kan sabtu pulangnya belakangan, AC ngak kamu matiin kah?
A    : *masih kesal karena aku tegur masalah ke kantor polisi* siapa yang bilang aku ngak matiin? *rada-rada emosi*
Ce   : aku kan ngak bilang kamu ngak matiin, aku kan Cuma nanya… 

Jadi makin ribut aja nih ruangan…

Me  : sudah-sudah.. itu aja dipermasalahkan, *ngambil remote matiin AC, tetap stay cool balik kemeja*

Tiba-tiba ruangan jadi diem dan pada serius kerja.. krik—krik..krik..
2 menit kemudian telpon dimejaku bordering.

A    : Hallo mbak Ai cantik.. ini t***a Banjarmasin.
Me : *bengong*(ni anak gombal banget ya.) iyaaa ada apa ya?
A    : ini mau nanya, tadi mbak telpon ke BJM ada apa ya?
Me :itu soal kasus nestle dan Philips, kapan mau diselesaikan?
A   : oooh.. itu hari ini bakal saya selesaikan mbak.. ya udah makasih ya…
Me : -_-“ ini klo Cuma mau nanyain itu aja kenapa harus interlokal nelpon aku, kan bisa Tanya langsung ke pak Dim*s sebagai atasannya…pfffft aneh.. lagian dia tau dari mana aku yang nelpon? nguping kah?? ya sudah lah..

Case 3.
Pulang meeting, pengen refresh otak, dan ngeliat suasana ruangan udah kayak biasanya.. Tiba-tiba ada yang nanya tentang bahasa daerah.
A  : pak, XXXXXX itu artinya apa..?
B  : oowh itu artinya YYYYY,
A  : berarti itu bukan bahasa papua ya pak? Bahasa makassar donk.
B.   : iyaaa.. Itu bahasa makassar.
Me : emang  Ƙªmΰ masih bisa bahasa makassar ya bos? (For info. Si B ini asli makassar tp besar  ∂i surabaya, dan "bos" itu adalah panggilan smua orang  ∂i ruangan ini. Biar ngak terjadi perendahan kasta.. .ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ )
B. : yaaa masih ngerti lah bos, tp klo ngomongnya ngak bisa..
Me : oowwwh.. Baguslah.. Kirain ngak bisa lagi, soalnya aku udah ngak bisa lagi bos.. *muka datar*
Ce :  Ƙªmΰ ngak bisa apa mbak?
Me : ngak bisa lagi ngomong bahasa inggris. *muka polos*
Ce : *langsung gigit lengan aku, karena dia duduk tepat disebelahku*  "Ƙªmΰ itu mbak.. Mbak.. Kirain ngak bisa bahasa padang lagi.. "
Me :-_-“aaaaaduuuw.. *kok aku digigit??* lha trus apa donk? Emang sekarang udah ngak bisa lagi ngomong bahasa inggris..
Ce : ya apa hubungan nya coba? *nguyel2 lenganku, mau gigit lagi*
Me : aaah sudahlah.. Ntar aku kena gigit lagi.. -_-“ *untung aku lagi puasa, klo ngak udah aku gigit balik nih cewek*

Case 4.
Curhat ama adek-adek comel  ∂i WA.
Me : aku digigit.. Bla.bla..bla..
Jun : malah ketawa, trus bilang pasti aku ngegemasin..
Me : *mikir* apanya coba yang ngegemasin..??
Trus cerita-cerita sampe pada topic :
Jun : bawa nama aku juga ya kak (saking pengennya ni anak nonggol di cerita gaje aku..hehehe)
Me : iyaa ntar aku bawa..
Jun : emang bawa gimana?
Me  : udah liat aja ntar.. (lhaaa ini kan aku udah bawa-bawa nama kamu jun)
Nely : aku jugaaa yaaa kak…
Me : iyaaaa..
Ini anak dua kenapa juga ikut-ikutan jadi aneh yaa? -_-“ *halaaah ngak penting*

Saat yang bersamaan juga dapet BBM dari Mican..
Mican : Mbak yuuuu.. mau Tanya donk..
Me      : iya ada apa?
Mican : klo mahar itu dicicil boleh ngak? Misalnya bla..bla..bla ..
Me      : -_-“ ini kenapa gue jadi konsultasi pernikahan gini ya??  Perasaan belum pernah nerima mahar orang deh..
Trus berlanjutlah percakapan BBM itu dengan Tanya jawab seputar mahar..-_-“

Case 5.
A    : *ngasi berkas ke meja aku *
Me : ini apa bos? *nanya dengan polos*
A    : *ngambil lagi berkas2 itu trus narokin dengan baik dan lemah lembut di mejaku* "bukan gitu maksudnya bos, tadi mau ngasi gini, tapi terhalang, klo ngasi gini juga ngak enak makanya bla..bla..bla…" (kayaknya ni orang trauma ama kejadian tadi pagi hehehe)
Me : -_-“ ini aku nanya apa jawabnya apa?? Aku kan ngak bilang cara dia meletakkan dokumen salah…

Case 6.
Masalah ini terjadi karena dapat komplenan dari department lain, makanya harus crosscheck lagi
Me : *nyari-nyari dokumen di lemari arsip*. Sar* dokumen no X ini kan gabungan dengan no Y ya? *ngeliatin tulisan gabungannya*
A  : iya, itu gabungan.
Me : coba kamu cek dokumen Y, itu gabungan kan? itu kenapa kamu setorkan klo emang gabungan, sementara gabungannya masih disini. (FYI: klo gabungan harus diserahkan bersamaan)
A ; *gubek-gubek datanya sendiri* 5 menit kemudian
     iyaa itu udah aku setor, dan udah diterima AR hari ini..
Me : -_-“ haduuuh Sar*, iyaa aku tau itu udah disetor, makanya pihak AR komplein ke kita  karena mereka terima ngak lengkap. Yang aku tanyakan kenapa kamu setornya ngak berbarengan???
Akhirnya Ruangan jadi rame karena anak-anak menertawakan Sar* yang ngak nyambung..

 Case 7
 A, dan B ada didepan meja aku..
A    : mbak, tolongin ambilin itu donk dalam tas aku...
me : *ngambilin*
A   : haduh mbak lupa, dompet aku juga donk sekalian di dalam tas dilaci bawah
me : *ngambilin lagi* 
A   : *selesai ngambil uang* udah mbak, tolong masukin lagi yaaa.. *sambil ngelemparin dompetnya kemejaku
me  : -_-" ini kenapa gue yang disuruh-suruh?? T.T

B     : mbak, ini surat jalannya ngak ada stemple dan TTD, boleh ngak ya?
me  : kayaknya ngak boleh, coba telpon AR aja dan tanya dari pada ntar di retur..
B     : pencetin donk mbak no nya *wajah lugu*
me  : -_-" mencetin no telpon  (ini kenapa gue lagi yang disuruh2??)

yang lain : "eeeh enaknya yaaa kamu pake nyuruh-nyuruh..."

Aaah kenapa hari ini rasanya jadi aneh yaaa?? Bukan aku banget..aaah ujiaaaan....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

membentuk keluarga islam

bismillahirrohmanirrohiim...

misi..misi..misi.. sambil tatsqif sambil sharing  hasil kajian bersama @ajobendri, terkhusus buat adek-adek comel yang katanya pengen segera mengenapkan agama..dan buat kakak-kakak yang sudah membuat list undangan, padahal belum ketemu calonnya #eh smoga dilancarkan dan diberkahi..aamiin...mohon maaf klo ngak sesuai aslinya karena sudah ada beberapa penambahan dan penyesuaian disana sini sesuai selera yang nulis *plak*.:)

Bab mengenai pernikahan selalu menarik dan penting untuk dibahas. Bukan hanya karena soal romantisme-nya. Sebab pernikahan bukan hanya tentang bulan madu. Malah, nyatanya, lebih banyak bulan racun daripada bulan madu. Persoalannya, apakah kita punya penawarnya?

Lebih dari itu, pernikahan –menggunakan istilah Ustadz Anis Matta, adalah peristiwa peradaban. Keputusan pernikahan adalah salah satu keputusan paling penting dalam hidup, jauh lebih penting dari keputusan memilih sekolah terbaik, kampus terbaik, tempat kerja terbaik, dan seterusnya. Karena, sekali lagi, pernikahan adalah peristiwa peradaban. Bukan hanya soal mengubah tatanan demografi masyarakat, tetapi pernikahan membuka pintu untuk generasi baru, yang bisa jadi, melalui mereka tugas kekhalifahan manusia terlaksana.

Sayangnya, ketika membicarakan pernikahan dan persiapannya, biasanya kita akan berfokus pada dua hal: harta dan mental. Padahal ada satu hal yang sangat penting, yang menjadi kunci kesuksesan pernikahan, yaitu ilmu. Bukan hanya ilmu mengenai tata cara mengkhitbah atau wawasan ke-Islaman dasar, tetapi juga, yang ditekankan dalam bahasan sederhana ini, ilmu merekayasa dan memelihara sebuah generasi terbaik.

Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik sesungguhnya bukan diciptakan di kampus-kampus, sekolah-sekolah, atau institusi lain yang kita sebut “pendidikan”. SDM terbaik lahir dari keluarga. Didikan keluarga adalah pondasi bagi semua pendidikan lain di luar keluarga. Sebuah riset yang dilakukan oleh beberapa departemen di FISIP UI bersama KPK menemukan bahwa para pelaku koruptor (yang telah terbukti bersalah dan ditahan) memiliki masalah sewaktu dibesarkan dalam keluarganya dulu.
Mengenai SDM terbaik, Rasulullah SAW. pernah bersabda:
“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
Salah satu ciri SDM terbaik, jika mengacu pada generasi Rasulullah SAW., adalah usia karakter yang jauh lebih matang melampaui usia fisiknya. Dan semua ini dihasilkan dari keluarga yang berkualitas. Sehingga, berbicara visi pernikahan bukanlah sekadar tentang menjadi suami/istri, tetapi juga menjadi ayah/ibu, dan juga tentang mencari ayah/ibu terbaik bagi generasi yang kita lahirkan kelak.

Tentang pendidikan anak, kita sering mendengar pepatah Arab, “Ibu adalah madrasah bagi anaknya.” Pepatah ini benar, namun sebenarnya masih memiliki lanjutan, yaitu “.. dan ayah adalah kepala sekolahnya.” Maka, pendidikan anak bukan hanya soal ibu dan anak, tetapi bahkan ayahlah yang paling bertanggung jawab atas visi, perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi pendidikannya.

Islam sendiri mengangkat tinggi peran ayah dalam pendidikan anak. Dalam Al-Quran, secara keseluruhan ada 17 dialog tentang pengasuhan, yang tersebar diantara 9 surat. Terdapat 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, dan hanya 1 dialog antara guru dan murid. Cukup mengejutkan bukan? Di saat hari ini masyarakat kita menganggap amanah membesarkan anak “dibebankan” kepada ibu saja, sehingga menyebabkan banyak perempuan menunda-nunda pernikahan dengan alasan ingin mengejar cita-cita, karir, dan lain sebagainya sebelum ia harus berhenti untuk mengurusi anak-anaknya. Paradigma ini juga menimbulkan kecemburuan bagi kelompok perempuan tertentu terhadap kaum laki-laki, sehingga mempertanyakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Terlepas dari perdebatan mengenai hal tersebut, poin pentingnya adalah perlunya pelurusan paradigma tanggung jawab mendidik anak. Prinsip pendidikan ayah dan ibu adalah saling mengisi, tidak berarti bergantung pada salah satu saja. Namun peran ayah sangat ditinggikan. Seorang bijak pernah berkata, “Jika ada anak yang durhaka, perhatikan ayahnya.”

Bahkan, tanggung jawab pendidikan anak pada (calon) ayah sudah ada sebelum anak tersebut tercipta dalam kandungan, yaitu, sebagaimana Umar bin Khatthab pernah berkata, “Hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang shalihah.” Sementara dua hak anak lainnya terpenuhi manakala anak tersebut telah lahir, “lalu mengajarkan Al-Qur’an, dan memilihkan nama yang baik.”

Ketika anak berada dalam kandungan, suami memiliki kewajiban untuk menyenangkan istrinya. Seorang ibu yang hamil pada dasarnya hanya memiliki tiga macam aktivitas, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surah Maryam ketika Maryam mengandung, “
 Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu …” (QS. Maryam: 26).
wiieeh..enak banget ya jadi orang hamil #eh. Ada tradisi Islam yang semakin hilang, yaitu tradisi dimana masyarakat ikut menjaga, memudahkan, membantu, dan membahagiakan muslimah yang sedang mengandung, dan ketika kandungannya lahir disambut dengan suka cita sebagai “bayi ummat ini.”

Kita sepatutnya curiga, jangan-jangan di rahim seorang muslimah, terlebih di rahim istri kita, ada ulama dan mujaddid (pembaharu)yang Allah titipkan, yang kelak akan membawa ummat muslim berdiri tegak memimpin dunia dan mensejahterakan alam..

nah itulah langkah awal dalam membentuk keluarga islami...hmmm kok pendek ya? ya iyalah wong kajiannya singkat kok..:)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

jika suatu saat kau menjadi ibu.

Jika Suatu Saat Kau Menjadi Ibu

Jadilah kalian seperti asma’ binti abu bakar yang berhasil mengobarkan semangat abdullah bin zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran hajjaj bin yusuf as-saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata asma’ “isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),”…. Abadi hingga kini.

Jika suatu saat kau jadi ibu,……

Jadilah seperti Nuwair binti malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja Zaid bin Tsabit.
Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada islam dan melayani rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.Dan tak lama kemudian ia diterima rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.

Jika suatu saat kau jadi ibu……..

Jadilah seperti shafiyyah binti maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam madzhab. Ia tidak lain adalah…………imam ahmad.

Jika suatu saat kau jadi ibu…..

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti ummu habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:
“ya Allah tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanmu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan rasul-mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-mu ya allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya……….imam syafi’i.

Jika suatu saat kau jadi ibu……

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.
“wahai abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal kitabullah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”, katanya memotivasi sang anak. “wahai abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”
sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama………. Abdurrahman as-sudais

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hanya perempuan biasa yang berharap jadi luar biasa



suatu dialog tentang hal yang sering ditanyakan ke saya:

x    : untuk apa sih kamu sibuk menjelajahi dunia? untuk apa kamu cerdas-cerdas? untuk apa kamu hebat-hebat? untuk apa baca buku terus? untuk apa kamu sibuk-sibuk? untuk apa susah-susah nyari pengalaman yg aneh dari desa hingga ujung benua? untuk apa kamu susah-sunya nyari title?eh nanti kamu ujung-ujungnya balik ke keluarga.

me: ehmmm..sederhana kok.. saya melakukannya.. untuk suami dan anak saya.

x   : hah? maksudnya.

me : ya ngak usah segitu banget kaleee kagetnya. Biasa aja..clam.. iya donk.. InsyaAllah karena kelak saya akan menjadi seorang  istri saya ingin jd istri yg sholehah plus plus..

x    : heh? plusplus?

me : tuuhkan dibilang biasa aja, ngak usah pake kaget…
iya..saya ingin jd istri yg jg menjadi partner cerdas untuk menemani dia mencapai asanya. ingin jadi istri yg tahu banyak hal utk menjadi supporter dan evaluator yg membuat dia makin hebat, ingin jd istri yg bisa diandalkan disetiap fase hidupnya. ingin jd istri yg bs bertahan di situasi apapun untuk terus menyenangkannya

x     : ( terdiam) trus kenapa harus untuk anak.

me  : iyaa kelak jika di ridhoi saya akan jadi ibu. saya melakukan banyak hal karna saya ingin jadi ibu yg tidak hanya merawat dan mendidik tetapi juga mencerdaskan, ibu yang tahu banyak hal untuk diajarkan ke anaknya. ibu yg punya banyak cerita motivasi untuk diceritakan ke anaknya. ibu yg dapat membanggakan anaknya untuk bilang kedunia tentang ibunya yang demi dirinya ibunya ini melakukan banyak hal dan kelak dirinya yang akan mensempurnakan smua itu.

jadi, apa yang saya lakukan saat ini aalah untuk membantu gerak anak dan keluarga saya kelak. gerak yg semoga bermanfaat untuk masyarakat, agama dan bangsa. Dan semoga usaha saya ini diridhoi Allah
amiin ya rabbal’alamiin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Followers