RSS
Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan

Surat cinta ini untuk kamu..iyaa untuk kamu :')




Katanya tanda-tanda seseorang adalah jodoh kita, ditunjukkan dengan dua tanda yaitu, dimudahkan atau mendekatkan diri kita dengan Allah. Denganmu, aku mendapatkan  kedua tanda itu ternyata. Tak mudah menyadari bahwa ternyata mencintaimu adalah sebuah ujian bagiku, ujian yang menyenangkan. Hingga detik ini, aku bersyukur aku menyadari bahwa aku mencintaimu, semoga karena Dia, Tuhan yang Maha Pengasih.

Tahu kah kamu, Tiap kali aku rindu padamu, aku tak berani untuk mengirimkan BBM, SMS, atau bahkan meneleponmu. Kupendam rindu ini diam-diam, tak seorang pun tahu. Hingga kusadari, lebih baik kutitipkan rindu ini melalui Dia dalam doaku, dan kusiram rindu ini dengan ayat-ayatnya, hingga padam dengan sendirinya.

Aku yang dulunya, menyentuh 114 surat-surat cinta-Nya, hanya seminggu sekali, atau bahkan sebulan sekali, atau mungkin juga kalau ingat saja, mejadi sering membaca firman-firmannya, karena ternyata hati menjadi lebih tentram. Karenamu, itu semua karena rindu yang tak terungkapkan padamu.

Tak berani pula kuungkapkan perasaanku ini padamu, dulu. Kusadari belum tentu kamulah yang akan menjadi sahabat baik seumur hidupku. Karena itu lebih baik, diam-diam kuselipkan namamu dalam tiap sujudku, berharap Dia membukakan jalan jika benar kamulah yang akan ada disampingku setiap  pagiku bangun, imam yang tepat bagiku, dan ayah yang baik bagi anak-anakku kelak.

Aku yang dulunya, tak sempat lagi duduk mengadahkan kedua tanganku padaNya, walau hanya beberapa menit, menjadi lebih banyak mengobrol padaNya. Juga karenamu, karena aku tak tahu harus mengungkapkan isi hati ini kepada siapa lagi, selain kepada penguasa dan pembolak-balik hati ini.

Sengaja kutuliskan surat cinta ini, surat cinta pertama kalinya dalam hidupku, sebagai tanda terimakasihku padamu. Karena sampai detik ini, sebenarnya aku masih tak percaya, bahwa besok aku akan menikah denganmu. Kamu yang diam-diam kusematkan namamu dalam doaku, kamu yang tak pernah berani aku khayalkan sampai menikah denganku, hingga, kamu yang ternyata datang dengan gagah berani datang ke orangtuaku, melamar anak gadisnya ini dengan penuh keyakinan bahwa kau ingin dia percaya bahwa kita bisa dan akan hidup bahagia bersama hingga di dunia dan akhirat. Terimakasih telah mempercayakanku sebagai tangan kananmu untuk mengarungi dunia ini bersama, terimakasih kamu mempercayai aku untuk menjadi ibu bagi anak-anakmu kelak.

Kepada, Mr (yang belum boleh dituliskan namanya). Terimakasih untuk segalanya, selamanya.
Dari,  Calon istrimu, yang ternyata diam-diam romantis yah, silahkan mengenalku lebih jauh sehabis ini.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Silent Hope…

Ada kah seseorang yang mau mengajakku mengejar ombak di pantai…?
Atau
Hanya sekedar bermotor malam-malam menikmati indahnya lampu kota…?
Pengennyaaa ya Allah…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

edisi emak-emak

Bismillahirrohmanirrohiim...

malam minggu dihabiskan baca diktat tentang parenting..sungguh luaaaaar biasa...gak nyangka klo diktatnya lebih banyak dari pada diktat zaman kuliah...berasa banget belum ada ilmunya sama sekali... belum ada apa-apanya...saran buat kalian yang masih single mendingan dicicil dari sekarang deh belajarnya...^__^

alhamdulillah, dipertemukan Allah dengan orang-orang luar biasa ini (meski ngak pernah bertatap muka langsung) tapi ilmu yang diberikan sangatlah bermanfaat..

gimana rasanya tergabung dalam komunitas ibu-ibu ini?? tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata... terharu dan jadi berasa ada teman yang sepemikiran serta mendukung...

#saksikanlah nak, emak kalian ini semangat empat lima belajar demi kalian kelak #halah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

jika suatu saat kau menjadi ibu.

Jika Suatu Saat Kau Menjadi Ibu

Jadilah kalian seperti asma’ binti abu bakar yang berhasil mengobarkan semangat abdullah bin zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran hajjaj bin yusuf as-saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata asma’ “isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),”…. Abadi hingga kini.

Jika suatu saat kau jadi ibu,……

Jadilah seperti Nuwair binti malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja Zaid bin Tsabit.
Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada islam dan melayani rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.Dan tak lama kemudian ia diterima rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.

Jika suatu saat kau jadi ibu……..

Jadilah seperti shafiyyah binti maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam madzhab. Ia tidak lain adalah…………imam ahmad.

Jika suatu saat kau jadi ibu…..

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti ummu habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:
“ya Allah tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanmu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan rasul-mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-mu ya allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya……….imam syafi’i.

Jika suatu saat kau jadi ibu……

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.
“wahai abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal kitabullah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”, katanya memotivasi sang anak. “wahai abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”
sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama………. Abdurrahman as-sudais

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KONSEP RUMAH MASA DEPAN



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dear my future husband, di hari penuh berkah ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang rumah Ideal yang pernah saya tinggali. keluarga yang memegang teguh nilai-nilai Islam. Situasi di rumah itu amat kondusif untuk membuat saya belajar agama secara menyenangkan. Mushola yang terletak di dekat kolam ikan, membuat senang berlama-lama di sana setelah shalat. Belajar mengaji, membaca buku, bahkan tidur di sana.

Sang Ayah hampir selalu shalat di masjid. Akan tetapi, shalat sunnah beliau tunaikan di rumah. Saya diajak untuk mengikuti ayah ke masjid, minimal sewaktu Subuh, Maghrib, dan Isya. Sang Ibu senang mengadakan pengajian di rumah. Setiap Senin dan Kamis, beliau rajin menyiapkan sahur dengan menu istimewa. Setelah Subuh, makanan tersebut diberikan kepada tukang sampah yang lewat di depan rumah. Sehingga, yang tidak berpuasa, tidak bisa merasakan hidangan spesial Ibu dan harus memasak sendiri bila hendak makan. Unik memang, cara beliau membiasakan kami berpuasa.

Ada banyak kisah-kisah lucu lainnya tentang upaya keluarga ini mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya. Insya Allah, apabila kita ditakdirkan menikah, saya akan menceritakannya. Sementara itu, rumah Islami yang saya akan usahakan kelak, insya Allah saya siap mencari ilmu lebih banyak tentangnya dan mendiskusikannya dengan suami. Rumah bahagia yang didasari Alquran dan Hadits, rumah yang menjadi surga di dunia, adalah salah satu cita-cita terbesar saya.

Dear mu future husband, saya akan mencoba memberi gambaran lebih detail mengenai konsep rumah Islami yang akan saya usahakan dalam keluarga saya kelak. Mudah-mudahan penjelasan di bawah memadai untuk itu.

FIRMAN ALLAH TENTANG RUMAH
           
kamu tentu setuju, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita telah diberi sepaket petunjuk yang terbaik; Alquran dan Hadits. Karena itu, saat membutuhkan arahan, maka kita harus mencari, bahkan berlari kepada Alquran dan Hadits terlebih dahulu. Search engine di Internet seperti Google atau buku-buku terbitan manusia, itu rujukan kedua yang perlu diseleksi secara teliti tentang kebenarannya. Sementara Alquran dan hadits, tidak diragukan lagi kandungannya.

Sebelum saya menjelaskan cita-cita rumah Islami, mari kita bersama-sama telaah firman Allah ta’alamengenainya. Allah menyebut tentang Rumah dalam Alquran dengan beberapa kata,  al bait, al maskan, dan ad dar. Al bait disebut salah satunya dalam Surat Al-Mulk ayat 11, “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, (yaitu) istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
             
Al maskan contohnya disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”

Sementara kata ad dar ada dalam surat Al-An’am ayat 127, “Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

UNTUK DUNIA AKHIRAT

Dear my future Husband, bukankah amat indah rumah-rumah yang Allah kisahkan dalam kitab suci Alquran tersebut? Tentang doa Asiyah radhiallahu ’anha istri Fir’aun yang meminta rumah di sisi Allah dalam surga. Tentang rumah di Surga ’Adn lengkap dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Juga tentang rumah yang damai di sisi Allah. Karena itu, sudah seyogyanya kita tekadkan, visi tentang rumah tidak boleh hanya berorientasi dunia. Harus satu paket, dunia akhirat!

Belum lama ini saya membaca tulisan Zein Mudjiono, seorang tokoh arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, rumah Islami harus mampu menjadi sarana meraih dua tujuan hidup. Pertama, kesejahteraan dunia, yang meliputi rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah), terjaminnya pendidikan anak, berlangsungnya siklus biologis, ukhuwah Islamiyah, silaturrahim, pembentukan pribadi muslim, karier yang sukses, dan kesehatan yang terpelihara. Kedua, kesejahteraan akhirat yang meliputi termudahkannya pelaksanaan ibadah mahdah, proses mu’amalah, dan mampu menjauhkan penghuninya dari hal-hal yang haram maupun makruh.

Saya juga tertarik dengan tulisan Sahar Kassaimah yang berjudul ”Islamic Family Values in an Anti-Family Society”. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk makan dan tidur. Ya, rumah memang tempat di mana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita dalam kebersamaan keluarga. Karena itu, jadikanlah rumah sebagai tempat untuk beribadah. Apa-apa yang terkait dengannya pun harus sesuai dengan tuntunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka akan hadirlah suasana rumah Islami yang sakinah. Sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu ’alayhi wa sallam berikut, ”Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Al Hakim, dan At Tarmidzi)

Masya Allah, betapa beratnya amanah dalam membangun rumah demi kebaikan dunia akhirat itu! Itulah sebabnya di awal tulisan ini saya menulis bahwa saya akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada suami, tentang visi rumah yang kelak akan diperjuangkan. Agar satu tujuan, satu cara mencapainya pula. Insya Allah.

TEMPAT MENGINGAT ALLAH

Baiklah, pun bila ada satu hal yang telah saya putuskan sebelum diskusi dengan suami saya nantinya, adalah rumah tanpa televisi. Rumah yang riuh rendah akibat televisi yang menyala tak kenal waktu sama sekali bukan impian saya. Bukankah tanpa bising layar kaca tersebut, hati kita saja terkadang sudah amat ramai? Karena itu, yang saya inginkan adalah mendamaikan rumah dan hati dengan alunan ayat suci dan dzikir. Hingga setiap relung rumah adalah refleksi penghambaan keluarga kepada Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir, laksana perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.” (Hadits riwayat Muslim)

Maka itu, Dear, jika saya diharuskan menjelaskan konsep rumah Islami dalam satu kalimat; rumah Islami adalah yang senantiasa dihiasi dzikir kepada Allah.  Dzikir Al-matsurat setiap pagi dan petang. Saling mengajak untuk shalat tepat waktu. Hapalan Alquran menjadi menu pertanyaan sehari-hari. Murattal ayat-ayat suci mengiringi aktivitas. Diskusi tentang ilmu agama. Perpustakaan dengan buku-buku Islami.

Rasanya apabila Allah memberi petunjuk dan kekuatan untuk mewujudkan rumah sedemikian, ujian hidup apa pun yang sedang diterima, kita akan kuat menghadapinya. Sebagaimana dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” rumah pun akan terasa sakinah bila jiwa penghuninya selalu tersandarkan kepada Allah.

SARANA TARBIYAH
           
Apakah uraian saya ini terlalu panjang untukmu Dear? Jika demikian, maafkanlah. Tetapi seperti yang  pernah saya sampaikan, pernikahan adalah proyek mahabesar. Maka semakin banyak yang kita siapkan menjelangnya, akan lebih baik.

Dear, insya Allah, dengan izin-Nya, suatu hari nanti aku akan menjadi seorang ibu. Al ummu madrasatul ula, seorang ibu adalah sekolah pertama. Maka rumah Islami sudah semestinya menjadi sarana yang mendukung pendidikan (tarbiyah) dari orangtuanya. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: cinta kepada Nabimu, cinta pada keluarganya, dan membaca Al Quran." (Hadits riwayat Ath-Thabrani)

Maka telah dapat saya bayangkan, rumah Islami adalah rumah dengan kurikulum tarbiyah yang jelas. Pemimpin-pemimpin ummat yang sholih, cerdas, kreatif, dan bijaksana tumbuh dengan pendidikan yang baik. Inilah tekad saya, inilah janji saya; untuk berupaya sekuat tenaga mendidik amanah berupa keluarga dengan sebaik-baiknya. Caranya bagaimana? “Sesungguhnya telah ada dalam (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik.” (Alquran surat Al-Ahzab ayat 21)

Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam mendidik anak-anak dengan penuh cinta, penuh kebahagiaan. Maka pendidikan apa pun, baik membaca ayat-ayat qauliyah (firman Allah dalam Alquran) maupunkauniyah (ciptaan Allah, alam semesta dan seisinya), saya inginkan ada dalam suasana menggembirakan. Tidak akan ada cerita, belajar membaca Alquran dengan penggaris kayu memukul tangan anak apabila ada kesalahan. Atau ancaman hukuman jika tidak menurut.

Konsep rumah Islami lekat dengan istilah baiti jannati, rumahku surgaku. Makna surga ini bukanlah wujud fisik rumah yang megah bak istana. Tetapi kedamaian dan kebahagiaan di dalamnya saat seluruh keluarga dengan penuh senyum, tawa, dan kasih sayang, bersatu menjalani hari-hari di rumah untuk tujuan surga di akhirat. Surga di dunia, surga di akhirat, apalagi yang mungkin lebih membahagiakan dari itu?

PEMBERI MANFAAT BAGI SEKITAR

Tetapi, selain menjadi tempat mengingat Allah, sarana tarbiyah, sebuah rumah Islami haruslah penuh manfaat bagi sekitar. Berkontribusi kepada lingkungan adalah amal shalih yang perlu dijalankan seiring upaya menanamkan keislaman di dalam rumah kita. Apabila masjid dekat rumah kita masih sepi dari jama’ah dan program-program Islami, masukkan ini sebagai pekerjaan rumah yang harus ditunaikan.

Musyawarah dengan Muslim dan Muslimat lain yang sepaham, lalu kerjakan sedikit demi sedikit. Hingga insya Allah, kita akan merasakan nikmatnya bertetangga dengan orang-orang yang memakmurkan masjid. Anak-anak yang riang datang belajar mengaji setiap sore ke masjid. Bapak-bapak yang lima waktu saling bersalaman, berdiskusi tentang kemaslahatan ummat, setiap kali usai berjamaah di masjid. Ibu-ibu yang rutin mengadakan pengajian, khitanan massal, santunan bagi anak yatim, dan lain sebagainya.

Aula desa yang tidak hanya dipakai setiap ada penyuluhan dari dinas atau menjadi puskesmas bulanan, tetapi kita hidupkan menjadi perpustakaan gratis. Buku-buku untuk anak, majalah, surat kabar, semuanya lengkap! Ada akses Internet yang diawasi penggunaannya. Ada pegawai yang digaji dari hasil patungan warga.

Petugas kebersihan, satpam penjaga keamanan, anak-anak yatim dan keluarga dhuafa yang bahagia karena setiap bulan mendapat sedekah terorganisir dari masyarakat. Pertandingan olahraga yang membuat dari mulai anak-anak hingga lansia semangat berlatih voli, sepak bola, sampai senam yang tepat untuk para kakek dan nenek. Saling kenal, saling sayang. Saling hormat, saling mengajak pada kebaikan. Luaskanlah surga di dalam rumah kita hingga ke berbagai penjuru. Indah ya, Dear?
             
Wallahu a’lam bisshowab. Begitulah Dear, konsep rumah Islami yang tidak pernah luput dari daftar munajat saya kepada Allah, agar Allah memampukan saya menjadikannya nyata. Semoga kamu berkenan dengan uraian saya kali ini. Sampaikan salam hormat saya kepada Bapak dan Ibu.
             
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cara menarik mengajar hapalan Al qur'an kepada balita

Alhamdulilallah, jalan2 kerumah tetangga sebelah, nemu cerita yang inspiratif banget.. kayaknya perlu dipraktekan kelak dalam mendidik anak-anak ku.. #halah


—————————————————
Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk…, wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik…dll).

Kemudian, si guru ngajarin ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23” dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”, isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz’amma.
Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar…dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll. Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat.

Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .

Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an). Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114).

Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa”/Mujadalah:12). Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung.

Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31), mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” (As-Shaf:2)…dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma…!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran. Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb.

Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).

Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini..), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa”(Al Baqarah:168).

Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun. Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental (bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran.

Setiap anak penghapal Quran dihadiahi pergi haji bersama orangtuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran (jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan dari sekolah2 lain). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu beda/ lain daripada yg lain).

Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak.

Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD. Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

Nah…segitu dulu pengalaman saya. Mudah2an ada manfaatnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dear You..

Assalamualaikum.

langit cerah siang ini, Udara panas menyergap di sekeliling kamar. Sepertinya hujan masih ragu, apa bumi perlu disejukkan lagi atau tidak, sedangkan sejak kemarin ia sudah turun mengguyur bumi hingga basah kuyup.
Sedang aku, tak melakukan apa-apa selain berusaha menyusun kata-kata, menyampaikan apa yang ada di pemikiran dengan kalimat-kalimat yang kuusahakan pas, kepadamu.

Kepadamu, segala harap membuncah. Kau yang kugadang-gadang dapat meluruskan prinsip dan akal sehat. Kau yang kugadang-gadang dapat menjadi imam.
Kau, yang kuidam-idamkan memiliki hafalan qur’an yang baik, memiliki pemahaman agama yang mumpuni. Kau yang kuharapkan mampu membimbing, meluruskan iman dikala membelok, mengingatkan dikala menunda sholat, menyodorkan qur’an dan meminta membacanya ketika disekap kesedihan.

Kau, laki-laki yang nampaknya diam, nampaknya dingin, nampaknya tak peduli, tapi nyatanya hangat dan meneduhkan. Kau, laki-laki yang tegas dalam laku, bijaksana dalam tutur, dan hangat dalam mendekap, yang selalu mampu menempatkan diri dikala harus menjadi teman, sahabat, maupun suami. Kau, yang kuidam-idam untuk segera datang, Kau.

Surat ini kutulis saat umurku menginjak 27 tahun. Usia yang kata orang sudah dewasa, namun nyatanya aku sediri merasa masih sangat childish. Akan nampak aneh dan menggelikan sekali membaca ini barang tiga sampai lima tahun kemudian. Merasa diri belum pantas untuk merindukan ‘pernikahan’. tapi entah kenapa aku memiliki keberanian yang besar menuliskan rencana ini dalam dream book ku..(katanya menulis dream book itu harus detail, see..aku menuliskan sudah detail bukan? )

.
Geli sendiri rasanya saat menuliskan ini. Merasa sangat dan sangat-sangat tidak pantas. Merasa menjadi manusia paling ababil di dunia. Ah~ tapi bukankah merindukanmu sebagai suami nyatanya lebih baik daripada merindukanmu ‘hanya’ sebagai seorang ‘pacar’? (Oke, anggap saja ini hanya apologi).

Aku, yang membaca qur’an saja masih terbata-bata ini. Aku, yang sholatnya masih sering kali kutunda karena amanah dunia ini. Aku, yang jilbabnya kadang belum sempurna terjulur ke bawah ini. Aku, yang masih suka lepas kaos kaki ketika keluar kamar kost. Ah~ aku, yang masih begini-begini saja ini. Pantaskan merindukan orang sebaik engkau, sesholeh engkau?

Ah~ aku, yang masih kekanak-kanakan ini, pantaskah esok menjadi ibu dari anak-anak yang kau harapkan dapat menjadi penegak agama?

Ah~ aku, sekali lagi, yang membaca qur’an saja masih terbata-bata ini, mampukah membimbing hafizh dan hafizhah kecil kita esok?

Ah~ aku, yang menggoreng telur saja masih sering gosong, mampukah menyediakanmu hidangan untuk bekalmu mencari nafkah esok?

Rasa-rasanya Allah terlampau cepat membentuk rindu ini. Bukankah masih sangat banyak waktu untuk rindu ini, esok?

Segera kusadari bahwa rindu ini ada untuk dituntaskan segera. Rindu ini ada sebagai lonceng, sebagai penanda, bahwa pembenahan diri sendiri harus dimulai sejak saat ini. Harus dimulai sebelum terlambat. Ah~aku harus mempersiapkan segera..
semoga apa yang ku tulis di dream book itu bisa tercapai...aku mohon do'anya..agar aku layak menjadi pendamping mu dan ibu dari anak-anak mu kelak..

Umurku baru saja 27 tahun dan aku mulai merindukanmu. Rasa-rasanya hati sudah mulai demam :)

(Untuk kamu yang namanya sudah mulai berani ku tulis "Zauji" :))

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ada hal yang ingin ku lakukan kelak

Bismillahirrohmanirrohiim..

Ada hal yang rasanya telat aku lakukan,
Tapi aku yakin tidak akan telat aku lakukan denganmu kelak nak..

Yaitu belajar “kreatif”..
Entahlah… aku selalu merasa iri kepada orang-orang yang “kreatif” itu..
Ada banyak hal dan keindahan yang mereka ciptakan dengan kesederhanaan..
Dan kelak aku ingin kau seperti itu nak..

Aku ingin mengajarimu seperti ini..


Dan ini..





Aaah pokoknya ada banyak hal-hal kreatif yang ingin ku lakukan dengan kalian…
Dan untuk itu aq harus belajar dari sekarang…


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Followers